PERADABAN MOHENJO DARO DAN HARAPPA DI LEMBAH SUNGAI INDUS: KAJIAN GEOHISTORI

A.  Latar Belakang Geografis Terbentuknya Peradaban Mohenjo Daro-Harappa
Daerah Lembah Sungai Indus terletak di barat laut India. Sungai Indus berasal dari mata air di Tibet, mengalir melalui Pegunungan Himalaya. Setelah menyatu dengan beberapa aliran sungai yang lain, akhirnya bermuara ke Laut Arab. Panjang Sungai Indus kurang lebih 2900 kilometer. Apabila Anda memperhatikan Sungai Indus pada peta dewasa ini, maka sungai tersebut mengaliri tiga wilayah yaitu Kashmir, India, dan Pakistan. Sisa peradaban Lembah Sungai Indus ditemukan peninggalannya di dua kota, yaitu Mohenjo Daro dan Harappa. Penghuninya dikenal dengan suku bangsa Dravida dengan ciri-ciri tubuh pendek, hidung pesek, rambut keriting hitam, dan kulit berwarna hitam.
Penemuan arkeologis di Mohenjo Daro-Harappa mulai terjadi ketika para pekerja sedang memasang rel kereta api dari Karachi ke Punjab pada pertengahan abad ke-19. Pada waktu itu, ditemukan benda-benda kuno yang sangat menarik perhatian Jenderal Cunningham, yang kemudian diangkat sebagai Direktur Jendral Arkeologi di India. Sejak saat itu, maka dimulailah penggalian-penggalian secara lebih intensif di daerah Mohenjo Daro- Harappa.
Berdasarkan penggalian arkeologis di Mohenjo Daro dan Harappa, dapat dibuktikan bahwa ± 5000 tahun yang lalu muncul komunitas beradab di wilayah Punjab dan Sind. Peradaban Mohenjo Daro dan Harappa berasal dari periode yang sama dengan peradaban lembah Sungai Nil di Mesir dan peradaban lembah Sungai Eufrat-Tigris di Mesopotamia. Kebudayaan Mohenjo Daro dan Harappa ialah kebudayaan penduduk kota (urban culture) serupa dengan yang dijumpai di Sumeria, yang berkembang pada waktu yang sama ±3000 SM (Pringgodigdo, 1977). Daldjoeni (1982: 103) menyatakan bahwa secara geografis, wilayah yang ditempati peradaban di lembah sungai Indus lebih luas dibandingkan wilayah peradaban Mesir atau Mesopotamia.
Mohenjo Daro (bukit kematian) adalah sebuah bukit di Daratan Larkana, Sind. Wilayah ini dan sekitarnya cukup subur, sehingga dikenal sebagai Nakhlistan (Taman Kota Sind) (Suwarno, 2012: 18). Secara geografis, Mohenjo Daro terletak di Distrik Larkana sekitar 28 km dari Larkana dan 107 km dari Sukkur. 27  19‘ 30.36“ Bujur Utara dan 68  08‘ 08.77” Bujur Timur. Harappa ialah sebuah kota di Punjab, timur laut Pakistan sekitar 35 km tenggara Sahiwal. Kota ini terletak di bantaran bekas Sungai Ravi (Lihat peta 1.2). Munculnya peradaban Harappa lebih awal dibanding kitab Veda, saat itu bangsa Arya belum sampai India. Waktunya adalah tahun 2500 sebelum masehi, bangsa Troya mendirikan kota Harappa dan Mohenjondaro serta kota megah lainnya di daerah aliran sungai India. Kota modernnya terletak di sebelah kota kuno ini, yang dihuni antara tahun 3300 hingga 1600 SM. Di kota ini banyak ditemukan relik dari masa budaya Indus, yang juga terkenal sebagai budaya Harappa.
Awal abad ke-20, arkeolog Inggris Sir John H Marshall mengekskavasi kota kuno Mohenjondaro dan Harappa. Hasilnya tingkat kesibukan dan keramaian kedua kota tersebut membuat Marshall terkejut. Ini adalah bekas ibukota dua negara merdeka pada jaman peradaban sungai India antara tahun 2350-1750 sebelum masehi, penelitian lebih lanjut menghasilkan perhitungan, dua kota masing-masing terdapat sekitar 30 hingga 40 ribu penduduk, lebih banyak dibanding penduduk kota London yang paling besar pada abad pertengahan.
B.  Gambaran Umum mengenai Kebudayaan yang Berkembang di Mohenjo Daro-Harappa
Berdasarkan penggalian arkeologis di Mohenjo Daro dan Harappa, ditemukan puing-puing kota besar (big city) yang diduga dibangun beberapa kali. Dijumpai bangunan atau gedung tempat tinggal dari ukuran terkecil (berisi dua kamar) hingga gedung mewah di kanan-kiri jalan yang luas dan lurus. Gedung-gedung itu dibuat dari bata. Gedung-gedung besar punya dua atau lebih loteng, dilengkapi dengan lantai ubin dan halaman, pintu, jendela dan tangga-tangga sempit. Hampir semua gedung itu mempunyai sumur, pipa saluran dan kamar mandi. Setiap rumah mempunyai pintu dan jendela yang menghadap ke jalan. Rumah-rumah itu mempunyai loteng dan beratap datar (Lihat gambar 2.1). Terdapat bangunan-bangunan besar yang diduga merupakan istana, kuil dan gedung kota praja (Suwarno, 2012: 18).
Mohenjo Daro merupakan kota dengan tata letak yang baik, jalannya lebar sampai 10 m dan membujur hingga sejauh 2 km. Semacam trotoir selebar ½ m mengapit kanan kiri jalan. Jalan-jalan itu membujur membentuk sudut siku-siku ke utara selatan dan ke timur barat (Su’ud, 1988: 38). Bangunan yang mengesankan ialah kolam besar (big bath) berupa alun-alun segi empat yang luas dengan serambi dan ruanganruangan di semua sisi (Suwarno, 2012: 19). Terdapat kolam renang yang dikelilingi pagar di bagian tengahnya. Air disalurkan melalui pipa-pipa besar. Panjang kolam 180 kaki (55 m), lebar 108 kaki (33 m) dan dinding luarnya memiliki ketebalan 8 kaki (2m) (Lihat gambar 2.3). Jalan-jalan kota besar itu luas dan lurus, dilengkapi dengan sisitem saluran pembuangan air.
Di puncak kejayaannya, Mohenjo Daro dihuni oleh sekitar 40.000 orang. Jaringan jalan di perumahan, rumah dari bata standar, dan sistem saluran air canggih yang mengalir ke parit utama, dapat dilihat dari “benteng pengawas” yang merupakan pusat keagamaan dan upacara. Barang dagangan dikirim hingga Mesopotamia (Adams, 2008: 40). Penduduk Mohenjo Daro membangun sistem drainase pertama di dunia. Rumah-rumah memiliki kamar mandi dan toilet. Air dan limbah mengalir keluar melalui pipa-pipa menuju selokan di bawah jalanan. Lubang berpenutup ditempatkan di sepanjang selokan dengan interval tertentu sehingga dinas kebersihan kotamadya bisa memanjat turun membersihkan kotoran. Limbah dibuang di tempat pembuangan di luar kota. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peradaban Mohenjo Daro dan Harappa memiliki kebudayaan yang tinggi dan modern.
Puing-puing menunjukkan Harappa merupakan sebuah kota yang mempunyai rancangan bangunan disekeliling ruang lingkup tertentu, kurang lebih menggunakan bahan yang sama, segalanya sangat teratur, bahwa pada tahun 3000 sebelum masehi, orang-orang membangun kota dengan skala yang sedemikian, memperlihatkan tingginya peradaban mereka (Lihat gambar 2.5). Kedua kota ini hilang pada tahun 1750 sebelum masehi, kira-kira dalam waktu 1000 tahun kebelakang, didaerah aliran sungai India tidak pernah ada lagi kota yang demikian megahnya, namun pada 500 tahun lampau, ketika bangsa Arya datang menginvasi, kebudayaan Harappa sudah merosot.
Kota Harappa memiliki lay-out kota yang sangat canggih. Benda-benda peninggalan juga banyak ditemukan di kota tersebut seperti arca, patung (terra cotta) yang diukir seperti bentuk wanita telanjang dengan dada terbuka (bermakna bahwa ibu merupaka sumber kehidupan) alat dapur dari tanah liat, periuk belanga, pembakaran dari batu keras, dan sebuah patung pohon disamping dewa (gambaran kesucian pohon bodhi tempat Sidharta menerima wahyu). Arca-arca yang ditemukan melukiskan lembu yang menyerang harimau dan lembu yang bertanduk sebagai gambaran bahwa mereka sangat mensucikan binatang. Hal ini tampak ketika masyarakat India mensucikan sapi sampai sekarang.
Patung “gadis menari” atau dikenal juga dengan dewi Ibu yang ditemukan di Mohenjo-daro adalah sebuah artefak yang berusia sekitar 4500 tahun. Patung perunggu dengan panjang 10.8 cm ini ditemukan di sebuah rumah di Mohenjo-daro pada tahun 1926. Sebuah patung lelaki duduk dengan tinggi 17.5 cm yang bergelar “Raja Pendeta” (walaupun tiada bukti pendeta atau raja memerintah kota ini), adalah satu lagi artefak yang menjadi lambang peradaban lembah Indus. Patung ini ditemukan oleh para arkeolog di Kota Hilir Mohenjo-daro pada tahun 1927. Patung tersebut ditemukan di sebuah rumah yang arsitektur batanya berhias dan berceruk dinding, terlantar di antara dinding dasar bata yang pernah menampung tingkat rumah. Patung berjanggut ini memakai pita rambut, lilitan lengan, dan mantel berhias pola trefoil yang aslinya berisi pigmen merah.
Lebih dari 500 materai telah ditemukan, terbuat dari lempangan tanah liat yang dibakar dan ukurannya kecil. Beberapa materai berisi gambar binatang, atau tulisan piktoral yang belum dapat diuraikan (Suwarno, 2012: 20) (Lihat gambar 2.7). peninggalan-peninggalan tersebut menunjukkan bahwa peradaban Lembah Sungai Indus merupakan peradaban dengan kebudayaan yang telah maju, bahkan melebihi kebudayaan lain pada saat itu. Kebudayaan tersebut tercermin dari kemampuan bangsa pendukungnya dalam membuat benda-benda yang bernilai seni tinggi. Benda-benda tersebut menunjukkan suatu kelebihan tersendiri dan dari situlah kita dapat merekonstruksi sejarah pada masa lalu di Lembah Sungai Indus.
Dari hasil penelitian lebih lanjut, diketahui kedua kota kuno tersebut dibagi dua bagian, yaitu kota pemerintahan dan kota administratif. Kota administratif adalah daerah permukiman, tempat tinggal yang padat dan jalan raya yang silang menyilang, kedua sisi jalan banyak sekali toko serta pembuatan barang-barang tembikar. Sementara kota pemerintahan adalah wilayah istana kerajaan yang dikelilingi oleh pagar tembok yang tinggi besar dan menara gedung.
C.  Relevansi Letak Geografis Sungai Indus terhadap Perkembangan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Mohenjo Daro-Harappa.
Lembah Indus adalah lahan yang subur yang tanahnya merupakan tanah alluvial dari sungai Indus sehingga cocok untuk bercocok tanam dan pertanian. Tidak heran, benih-benih kebudayaan tumbuh dan berkembang di sini. Banyak titik-titik peradaban muncul di sepanjang sungai Indus. Biasanya titik-titik ini adalah sebuah desa atau lahan subur yang berkembang di sepanjang aliran sungai Indus. Beberapa titik-titik dari kebudayaan di lembah Indus ini antara lain : Harappa, Mohenjo-Daro, Chanhu-Daro, Lothal, Kalibangan, dan sebagainya. Titik-titik ini dipercaya sebagai tempat tumbuhnya kebudayaan lembah Indus, karena ditemukannya bukti seperti bekas pemakaman, perdagangan, pertanian, seni dan kerajian, dan sebagainya (Wheeler : 1950). Pusat peradaban masa lampau di lembah sungai ini yang terbesar salah satunya adalah sisa reruntuhan kota Mohenjo Daro karena terdapat susunan bangunan yang rapi dan indah.
Bagian selatan sungai berada dalam wilayah negara India; sedangkan wilayah utara (wilayah Punjab) dan timur laut berada dalam wilayah Pakistan dan Cina. Sungai Indus atau juga dikenal dengan nama sungai Sindhu merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya peradaban yang dikenal dengan nama peradaban lembah Indus, atau peradaban Mohenjo-Daro dan Harappa (diambil dari mana situs kota kuno di aliran sungai Indus). Sungai Indus memiliki panjang ± 3.180 km dan bermuara diteluk Arab di wilayah selatan (Wikipedia.org : 2011). Peradaban dan kebudayaan lembah Indus yang dimaksud di sini adalah peradaban yang tumbuh dan berkembang di sepanjang aliran sungai Indus, terutama pada titik-titik tempat lahirnya desa-desa yang kemudian berkembang menjadi pusat kebudayaan seperti Mohenjo-Daro yang telah dijelaskan sebelumnya. Kemunculan awal dari peradaban ini belum diketahui pasti. Duiker & Spielvogel (2010) memberikan angka 6500 atau7000 SM. Sementara itu McIntosh (2008) memberikan angka 7000-4300 SM. 
Namun yang jelas, mereka sepakat bahwa benih-benih peradaban muncul pertama kali dalam bentuk desa pertanian awal yang tumbuh di sepanjang lahan alluvial di sungai Indus. Lembah sungai Indus menjadi pusat kebudayaan dan peradaban pada sekitar 2800 SM. Pusat kebudayaan yang paling maju salah satunya adalah Mohenjo-Daro (yang secara harafiah berarti “tanah orang mati”; nama ini diberikan oleh para arkeolog yang melakukan penggalian ditempat ini pertama kali) terletak di hilir sungai Indus. Manusia pembawa kebudayaan lembah Indus adalah bangsa Dravida yang memiliki ciri-ciri tubuh pendek dan berkulit hitam. Kebudayaan Indus berkembang berabad-abad lamanya, lalu mengalami kebangkitan sekitar tahun 3000 SM. Pemukiman Peradaban Indus tersebar sejauh pantai Laut Arab di Gujarat di selatan, perbatasan Iran di barat, dengan kota perbatasan di Bactria. Di antara permukiman-permukiman itu, pusat kota utama berada di Harappa dan Mohenjo-daro, dan juga Lothal. Puing-puing Mohenjo-daro adalah salah satu pusat utama dalam masyarakat kuno ini. Beberapa arkeolog berpendapat bahwa Peradaban Indus mencapai jumlah lima juta penduduk pada puncaknya.

D.  Hal-hal yang Menyebabkan Runtuhnya Peradaban Mohenjo Daro dan Harappa Ditinjau dari Letak Geografisnya
Kebudayaan lembah sungai Indus berangsur-angsur pudar lambat-laun menghilang pada sekitar 1800 SM. Para ahli memperkirakan bahwa kedatangan bangsa Arya dari celah-celah pegunungan di sebelah utara yang menyebabkan punahnya peradaban ini. Namun ada beberapa ahli yang mengatakan bahwa bencana alam seperti banjir besar atau pergantian iklim yang menyebabkan masyarakat lembah Indus punah (Duiker & Spielvogel : 2010).
Kota ini adalah salah satu permukiman kota pertama di dunia, bersamaan dengan peradaban Mesir Kuno, Mesopotamia, dan Yunani Kuno.. Arti dari Mohenjo-daro adalah "bukit orang mati". Seringkali kota tua ini disebut dengan "Metropolis Kuno di Lembah Indus". Tata kota yang terencana, berupa blok-blok paralel yang saling berhubungan, sistem drainase. yang baik, menara-menara pertahanan di pinggiran kota, citadel (pusat kota), pemandian umum, dan sebagainya (Lihat gambar 4.1). Dinding-dinding rumah dan kota dibuat dari bata yang dibakar Lihat Gambar 4.2). Hal ini dibuat sebagai pertahanan terhadap banjir (Gates : 2003). Masyarakatnya menggantungkan diri pada pertanian dan bergantung pada tanah alluvial yang dibawa oleh arus sungai Indus selama musim banjir. Selain bergantung pada pertanian, masyarakat lembah sungai Indus juga beternak hewan ternak dan juga binatang lainnya di padang rumput yang terletak di wilayah delta sungai Indus (McIntosh : 2008).
Gambar  Arsitektur Kota Mohenjo Daro
Sumber: (http://id.wikipedia.org/wiki/Mohenjo-daro)
Mohenjo-daro dibangun sekitar tahun 2600 SM, tetapi dikosongkan sekitar tahun 1500 SM. Pada tahun 1922, kota ini ditemukan kembali oleh Rakhaldas Bandyopadhyay dari Archaeological Survey of India. Ia dibawa ke sebuah gundukan oleh seorang biksu Budha yang mempercayai bahwa gundukan tersebut adalah sebuah stupa. Pada 1930-an, penggalian besar-besaran dilakukan di bawah kepemimpinan John Marshall, K. N. Dikshit, Ernest Mackay, dan lain-lain. Mobil John Marshall yang digunakan oleh para direktur situs masih berada di museum Mohenjo-daro sebagai tanda memperingati perjuangan dan dedikasi mereka terhadap Mohenjo-daro. Penggalian selanjutnya dilakukan oleh Ahmad Hasan Dani dan Mortimer Wheeler pada tahun 1945.
Penggalian besar terakhir di Mohenjo-daro dipimpin oleh Dr. G. F. Dales pada tahun 1964-65. Setelah itu, kerja penggalian di situ dilarang karena kerusakan yang dialami oleh struktur-struktur yang rentan akibat kondisi cuaca. Sejak tahun 1965, hanya proyek penggalian penyelamatan, pengawasan permukaan, dan konservasi yang diperbolehkan di situ. Meskipun proyek arkeologi besar dilarang, namun pada 1980-an, tim-tim peninjau dari Jerman dan Italia yang dipimpin oleh Dr. Michael Jansen dan Dr. Maurizio Tosi, menggabungkan teknik-teknik seperti dokumentasi arsitektur, tinjauan permukaan, dan penyelidikan permukaan, untuk menentukan bayangan selanjutnya mengenai peradaban kuno tersebut.
Pada masanya, Mohenjo-daro merupakan salah satu pusat administratif Peradaban Lembah Indus kuno. Pada puncak kejayaannya, Mohenjo-daro adalah kota yang paling terbangun dan maju di Asia Selatan, dan mungkin juga di dunia. Perencanaan dan tekniknya menunjukkan kepentingan kota ini terhadap masyarakat lembah Indus.  Dan reruntuhan kota kuno ini tidak lepas dari letak geografisnya yang dekat sungai, walaupun secara ekonomi menguntungkan. Namun  di sisi lain, faktor runtuhnya peradaban Mohenjo Daro menurut Soewarno (2012: 22) adalah kesulitan mengontrol banjir yang datang tiba-tiba dan penggundulan hutan. Sedangkan menurut Daldjoeni (1988: 103) kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan ekologis, yang berupa hujan makin berkurang, hutan-hutan habis ditebang karena kayunya dipakai untuk dapur-dapur serta hutan itu sendiri untuk pakan ternak. Faktor lain yang juga disebutkan oleh kedua tokoh tersebut adalah serbuan dari bangsa Arya atau kaum barbar (yang kurang maju peradabannya) (Lihat gambar 4.3).
Sir Mortimer Wheeler, dalam tulisannya tentang Mohenjo Daro, meyakini bahwa akhir dari kebudayaan Indus, sekitar 3500 tahun lalu, terjadi secara dramatis dan penuh kekerasan. Para penyerang yang kejam dipercaya telah “ menyapu bersih” seluruh penjuru kota sambil membantai laki-laki, perempuan, dan anak-anak secara acak, seraya meninggalkan mayat-mayat mereka sampai membusuk di puing-puing reruntuhan yang tidak pernah dibangun kembali ( Dick-Read, 2008: 27-28).
Gambar 4.3  Peta Migrasi Bangsa Arya
   Kesimpulan
            Peradaban Mohenjo Daro dan Harappa merupakan salah satu peradaban penting dalam sejarah peradaban bangsa-bangsa di dunia. Banyak hal yang menyebabkan peradaban tersebut menjadi peradaban besar, terutama faktor geografis. Daerah Lembah Sungai Indus terletak di barat laut India. Sungai Indus berasal dari mata air di Tibet, mengalir melalui Pegunungan Himalaya. Wilayah yang ditempati peradaban di lembah sungai Indus lebih luas dibandingkan wilayah peradaban Mesir atau Mesopotamia.
Kebudayaan Lembah Sungai Indus dapat telihat dari peninggalannya, seperti barang-barang rumah tangga, materai, patung, dan artefak lainnya. peninggalan-peninggalan tersebut menunjukkan bahwa peradaban Lembah Sungai Indus merupakan peradaban dengan kebudayaan yang telah maju, bahkan melebihi kebudayaan lain pada saat itu. Kebudayaan tersebut tercermin dari kemampuan bangsa pendukungnya dalam membuat benda-benda yang bernilai seni tinggi. Benda-benda tersebut menunjukkan suatu kelebihan tersendiri dan dari situlah kita dapat merekonstruksi sejarah pada masa lalu di Lembah Sungai Indus.
Lembah Indus adalah lahan yang subur yang tanahnya merupakan tanah alluvial dari sungai Indus sehingga cocok untuk bercocok tanam dan pertanian. Sehingga kebudayaan dapat tumbuh dan berkembang di kawasan Lembah Sungai Indus. Kawasan sepanjang aliran sungai yang subur itulah tempat munculnya titik-titik peradaban, seperti Mohenjo Daro danHarappa.
Peradaban tersebut pengalami kemunduran kemungkinan besar disebabkan oleh gangguan ekologis berupa banjir, penggundulan hujan, gangguan iklim serta faktor eksternal yaitu serangan dari bangsa Arya. Berdasarkan peninggalan dari peradaban Lembah Sungai Indus, jarang ditemukan senjata. Sehingga dapat mudah disimpulkan bahwa bangsa pendukung peradaban tersebut tidak menyukai kekerasan.


DAFTAR RUJUKAN
Adams, S. 2007. Sejarah Dunia. Terjemahan Damaring Tyas Wulandari dan Hilda Kitti. 2008. Jakarta: Erlangga.
Amstrong, K. 2006. The Great Transformation: Awal Sejarah Tuhan. Terjemahan Yuliani Liputo. 2007. Bandung: Mizan.
Black, J. 1995. Atlas Sejarah Dunia. Terjemahan Aruminingsih dan Henny Wirawan. 2009. Jakarta: Erlangga.
Daldjoeni. 1982. Geografi Kesejarahan I (Peradaban Dunia). Bandung: Alumni.
Dick-Read, R. 2005. Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika. Terjemahan Edrijani Azwaldi. 2008. Bandung: Mizan.
Duiker, William & Spielvogel, Jackson. 2010. World History volume I. New York : Cengage Learning.
Gates, Charles. 2003. Ancient cities – The Archaeology of Urban Life in The Ancient Near East. London : Routledge.
Pringgodigdo. 1977. Ensiklopedi Umum (volume 2). Yogyakarta: Kanisius.
Sen, T. T. 2010. Cheng Ho: Penyebar Islam dari China ke Nusantara. Terjemahan Abdul Kadir. 2010. Jakarta: Kompas.
Su’ud, Abu. 1988. Memahami Sejarah Bangsa-Bangsa Di Asia Selatan. Jakarta : Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan.
Suwarno. 2012. Dinamika Sejarah Asia Selatan. Yogyakarta: Ombak.
Wheeler, M. 1950. The Indus Civilization. London : Cambridge University Press.
Wikipedia Indonesia .2011. Mohenjo-Daro, (online), (http://id.wikipedia.org) dikses pada 30 September 2011.
Wikipedia Indonesia. 2011. Sungai Indus, (online). (http://id.wikipedia.org/wiki/ sungai_indus/ ) diakses pada 30 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages